Karbon, elemen dasar kehidupan, selalu berpindah antara atmosfer, samudra, dan daratan. Bahkan saat tanaman mengambil sejumlah besar karbon dioksida dari udara, perubahan penggunaan lahan seperti konversi hutan menjadi lahan pertanian menambah karbon di atmosfer. Proses pembentukan cangkang hewan di laut menyerap sejumlah besar karbon. Proses geologis yang perlahan, seperti pembentukan batubara atau gas alam, mengasingkan karbon di dalam tanah.
Hal ini membentuk jaringan kompleks siklus karbon. Salah satu fungsinya adalah mengendalikan karbon dioksida atmosferis, yang berpengaruh banyaknya panas Matahari yang diserap Bumi.
Selama sejarah manusia, kebanyakan besar siklus ini berputar perlahan dan konstan. Namun, aktivitas manusia setidaknya satu abad terakhir membuatnya berputar terlalu cepat.
Archive for the Global warming Category
Let’s Go Green [siklus karbon!]
Posted in AtriAbirama berkata......., Global warming with tags Add new tag on August 25, 2008 by atriabiramaLet’s Go Green [pola energi!]
Posted in AtriAbirama berkata......., Global warming with tags Add new tag on August 25, 2008 by atriabirama
ILMU EKONOMI SEDERHANA!!!!!![]()
Jika penghasilan setara pengeluaran, saldo di rekening bank tak akan berubah!!!! Seperti rekening tabungan, Bumi juga punya “rekening energi”. Setiap detik radiasi Matahari sampai ke Bumi dalam jumlah yang cukup konstan. Sekitar 30% dipantulkan kembali, sementara benua, samudra, dan atmosfer menyerap 70% sisanya. Saat “pendapatan” energi berakumulasi, Bumi juga membelanjakannya–meradiasikan energi panas yang tersimpan, kembali ke ruang angkasa. Sepanjang sejarah manusia, energi yang diterima dan dikeluarkan selalu setara, jadi sehu total bumi menjadi kurang lebih tetap. Namun, sepertinya hal itu berubah. Bumi menyimpan panas melalui gas atmosferis –uap air berbentuk awan, CO2, metana, dll–yang memerangkap sebagian panas yang diradiasikan permukaan planet. Inilah efek rumah kaca yang terkenal. Tanpa itu, suhu dunia akan berada di sekitar -20⁰C. Efek rumah kaca adalah fenomena alam, namun kita manusia yang mempermainkannya. Aktivitas manusia, termasuk membakar bahan bakar fosil seperti batubara dan minyak bumi untuk industri dan transportasi, meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca secara dramatis, menaikkan level CO2 sekitar 36% lebih tingi daripada saat abad ke-18, sebelum revolusi industri mengakibatkan adanya penggunaan batubara secara luas. Kontribusi umat manusia kepada atmosfer ini menyebabkan meningkatnya kinerja termostat di rumah kaca. Yang harus juga diwaspadai adalah peningkatan gas N2O(dinitrogen oksida) dan CH4(metana) yang memiliki potensi pemanasan global sebesar 289 dan 72 kali CO2.